Jumat, 23 November 2012

Syukur -apapunbentuknya-

Aku  adalah seorang remaja SMA yang sama seperti kalian, seseorang yang yang mempunyai keluarga yang lengkap,  kedua orang tua yang baik, kakak-kakak yang sayang dengan adiknya, aku. Panggil aku Ina. Aku punya sahabat-sahabat yang mereka sangat loyal, care, yaaa meski terkadang ada pertengkaran menghiasi persahabatan kami. Tapi selain aku punya persamaan dengan kalian aku juga punya perbedaan dengan kalian, kusebut perbedaan ini sebagai kelebihanku. Karena tidak setiap orang dianugerahi hal ini oleh Allah. Aku tunawicara, jika aku ingin mengatakan sesuatu aku harus melakukan beberapa gerakan yang bisa dimengerti oleh keluargaku, sahabatku, atau orang lain agar mereka mengerti apa yang aku mau atau apa yang hendak aku ucapkan. Terimakasih Tuhan, hanya itu yang kini aku bisa ucapkan. Terimakasih atas kelebihan yang Kau anugerahkan kepadaku.
Tak mudah menjalani hidup dengan memiliki perbedaan dengan banyak orang. Orang lain bisa berbicara dan berkomunikasi dengan baik, sedangkan aku? Bisa kalian bayangkan sendiri kondisi aku yang tunawicara dikelilingi orang-orang normal. Aku hanya bisa mengucap aa-a-a atau u-uuh. Heuh! Sering sekali aku merasa tak berguna ada di dunia ini, ingin mengakhiri hidup ini saat itu juga. Tapi  melihat keluarga dan teman-temanku yang begitu care, aku pun mengurungkan niat itu acapkali muncul di benakku.
***

‘Woy kedip! Segitunya liatin si Ina’ Ahlan mengagetkan Galih. Galih hanya tersenyum melihat temannya yang satu itu kini tengah duduk di sampingnya. ‘Iya sih si Ina emang cakep, ramah, baik tapi...’.
‘Hush’ potong Galih dengan cepat ‘udah ah kok jadi ngomongin orang’.
‘eh sorry maksud gue bukan gitu’
‘yaudah sih, gue juga slow kali’
‘ya kali’ ahlan menyaut seadanya karena takut salah ngomong lagi.
***

‘Ina  ke kantin yuk’ Saly mengajak aku dan teman-temannya yang lain untuk makan siang di kantin. Aku hanya mengangguk menandakan setuju.
Siang kali ini kami semua ditraktir Nida dalam rangka ulang tahun, kataya. Tapi dia kurang suka kalau menamakan itu sebagai perayaan ulang tahun, dia bilang itu hanya bentuk rasa syukur atas masih diberikannya lagi kesempatan bertaubat, berbuat baik dan bermanfaaat bagi sesama. Aku setuju dengan Nida. Bahwa setiap hal di dunia ini memang tak ada yang abadi, semuanya akan bertemu dengan yang namanya “akhir”.

Tak lama Balqis dan Sarah datang menyusul. ‘Habis dari mana kalian?’ tanya Saly. ‘Wah parah tuh guru Sal, bel udah bunyi dari tadi tapi mulutnya nyerocos terus’ jawab Sarah setengah kesal. Sarah dan Balqis kebetulan beda kelas dengan kami, tapi itu tak jadi batas. Kami tetap bisa kumpul bareng dan berbagi cerita. Hanya aku yang sering diam, yaaaa karena kelebihan aku itu. Tapi tak sedikitpun aku merasa minder berada di tengah-tengah mereka. Karena mereka sangat mengerti bagaimana menghadapi aku dengan kelebihanku itu.

Di tengah perbincangan kami siang itu Selvi bilang sesuatu kepadaku, dia bilang ‘Na anak kelas kita diem-diem ada yang merhatiin kamu tahu’. Serentak teman-temanku yang lain menyuraki ‘ciyeeeeeeee Ina’. Aku pun memberikan isyarat ketidaktahuaku tentang hal itu dan bertanya siapa. ‘itu lho si Galih’. Mendadak kedua alis aku bertemu sebagai isyarat apa yang aku dengar itu salah. Seandainya aku bisa berbicara aku akan mengatakan ‘ah masa?’.

‘Iya, jadi kemarin aku, Badot sama Galih pulang bareng. Terus si badot mulai bongkar rahasia Galih kalau Galih itu ternyata suka sama kamu Na’ Selvi menjelaskan.
‘Emang si Badot bilang apa aja?’ Balqis menyambut pernyataan Selvi.
‘Badot bilangnya gini. -Eh vi si Galih diem-diem suka sama temen lu tuh, si Ina.- Oh ya? Bener Gal? -Wah parah lu Dot, nyebar gosip. Engga Vi, bohong dia mah, jangan percaya.- Ya kalo beneran juga gak apa-apa Gal toh si Ina juga cakep, iya gak Dot? -Iya Vi setuju gue sama lu. Yaudah sih Gal jujur aja, sama si Selvi ini-. Iya jujur aja Gal, rahasia lu aman kok sama gue mah. -Ya sebenernya sih iya gue suka sama Ina. Meski dia punya kekurangan tapi dia gak pernah terlihat sedih dengan kekurangannya itu, bahkan dia menurut gue terlalu baik, terlalu ramah, terlalu manis. Meski bibirnya tak sering mengucapkan kata-kata tapi gue bisa baca kepribadian dia dari bibirnya, senyumnya, sangat ramah. Entahlah hati dia terbuat dari apa, dia sungguh terlalu lembut. Mungkin ungkapan syukur dia atas segala apa yang telah diberikan Tuhan untuknya, termasuk kekurangannya itu. Ya mungkin dia tidak bisa berbicara tapi cukup dengan senyumnya ia sudah mengungkapkan banyak hal-. Gitu na ceritanya’
‘Hmmm Galih so sweet banget sih’ ucap Anggia menggodaku. Aku hanya tersipu malu saat itu. Jantung ini berdebar lebih cepat. Entah apa yang kurasakan.
***

Sepulang sekolah aku langsung pulang ke rumah. Kebetulan di rumah hanya ada mamah dan kakakku yang ketiga, dia baru pulang kuliah. Lalu aku memberi isyarat manja pada mamah, perutku sudah memanggil-manggil masakan yang tengah diolah mamah. ‘Baru pulang dek?’ tanya kakakku yang baru keluar dari kamar. Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku bertanya dengan isyarat, yang pada intinya aku menanyakan kenapa mas Azam udah pulang. ‘Iya tadi dosennya gak bisa masuk, terus ganti jadwal deh. Yaudah mas pulang aja’. Lalu akupun mengangguk-ngangguk.
‘Ini masakannya udah mateng!’ mamah teriak dari dapur. Aku langsung pergi ke dapur setengah berlari lalu menyomot masakan mamah. Tak lama tanganku dipukul mamah. ‘Hih! Jorok cuci tangan dulu sana!’. Aku hanya menyungging senyum kecil. ‘Yaudah sekarang kalian mandi dulu sambil nunggu bapak pulang’. Aku dan kakak pun pergi meninggalkan meja makan.
***

‘Sekarang doa dipimpin mas Azam ya’ pinta bapak untuk memulai makan malam ini. Mas Azam pun berdoa dan kami, aku, mamah, bapak ikut menundukkan kepala dan berdoa. Selesai makan malam kami ngobrol-ngobrol di depan televisi. Bapak menanyaiku kegiatan hari ini di sekolah, sedang mas Azam asyik nonton bola.
Tak lama ada yang mengetuk pintu, ternyata kakakku yang kedua, mas Dawud. Dia baru pulang kerja. Mamah yang membukakan pintu. ‘Kok telat pulangnya mas?’ tanya mamah. ‘iya mah tadi ada deadline, jadi harus selesai malam ini’ jelas mas Dawud. ‘Yaudah sekrang kamu mandi terus makan ya’. ‘Iya mah’.
***

Hari ini aku belajar sesuatu dari teman-temanku. Tentang syukur. Pertama dari Nida, hidup ini adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Masih diberikannya kesempatan hidup itu anugerah terbesar kedua. Kini bagaimana kita memanfaatkan kedua anugerah itu. Kita isi dengan hanya senang-senangkah, berfoya-foya atau bersedih-sedih, murung, merutuki nasib, bermalas-malasan atau mensyukuri apa yang telah ada? Dengan apapun itu caranya. Coba kamu pikir sekarang jika jantungmu sudah malas berdetak, apa yang akan kau lakukan? Mungkin menyesal. Ingat Allah tak membatasi cara bersyukur. Bisa dengan kau berbagi, membantu orang lain, bahkan tidak menyusahakan orang lain pun itu sudah bisa dianggap bentuk rasa syukur. Yang terpenting adalah esensi dari syukur itu. Hati kamu ikhlas menerima segala apa yang telah Allah berikan. Jika ada hal yang kau inginkan tapi Allah belum memberikan maka kau dipinta untuk berusaha lebih keras. Atau mungkin Allah telah menyediakan hal lain yang lebih baik dari apa yang kau pinta. Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya.”

“Lalu yang kedua dari Galih. Dia menyadarkanku akan sesuatu yang sebenarnya belum pernah kusadari. Aku adalah seseorang yang tunawicara. Tak banyak yang terucap dari bibir ini. Harus selalu diiringi isyarat agar orang-orang disekelilingku mengerti dan faham apa yang aku maksud. Memang berat untuk menjalani kelebihanku yang satu ini, tak kupungkiri akupun pernah stress menghadapi kelebihanku ini, tapi tak ada gunanya mengeluh. Mengeluh hanya akan membuatku diam di tempat dan tak beranjak naik. Akhirnya kujalani semua ini dengan senyuman. Kata Galih justru lewat senyum itulah aku berbicara. Setumpuk kesabaran, rasa syukur dan kebaikan terlukis jelas lewat senyuman. Aku hanya ingin berbagi dengan kalian bahwa memang hidup itu sulit akan tetapi akan lebih sulit jika kau mempersulitnya dengan berbagai keluhan, rutukan kepada nasib atas ketidaksesuaiannya kenyataan dengan keinginan. Sudahi semuanya! Sekarang jalani semua itu lalu rasakan setiap detik hidupmu. Jangan sampai kau menyesal di akhir nanti. Jangan lupa selipkan senyum manis di setiap langkahmu.”
Itu kutipan aku malam ini yang aku posting di blog pribadi aku. Aku bersyukur pada Allah atas segalanya, atas kesempatan ini. Aku sangat bersyukur memilki keluarga yang sempurna, sahabat yang setia  dan masih banyak kesempatan-kesempatan lain yang Kau berikan. ALHAMDULILLAH.