Selasa, 10 Desember 2013

Wanitaku, aku mencintaimu

Aku tersentak. Kaget. Aku dimana? Ruang gelap, sempit, namun hangat.
Sebentar. Aku merasa sangat bahagia disini. Ah, aku berasal dari mana? Entahlah, aku tak mau memikirkan apa yang membuatku mengernyitkan kening. Aku tengah bahagia, jadi jangan ganggu. Enyahlah segala tanya.

Oh, semesta rongga dada menyempit. Sesak akan bahagia. Aku pun merasakan ada orang lain yang lebih bahagia dariku dan itu menambah kebahagianku. Siapapun kamu, kamu membuatku tersenyum tulus. Usap cintamu terasa begitu kental menyelimuti aku di ruang sempit ini.

“Tuhan, aku betah berlama-lama disini.” Ah iya, aku punya Tuhan. Tuhan tolong bantu aku menjawab segala tanya yang sebenarnya menggangguku sejak tadi. Aku berada dimana? Asalku dari mana? Apa yang membuatku bahagia sampai segila ini? Siapa wanita itu, yang bahagianya melebihi bahagiaku, namun itu menjadi alasanku untuk lebih berbahagia? Oh, shit! Aku terlena oleh senyumnya.

Inikah cinta, Tuhan? Sesederhana inikah cinta? Bahkan aku tak punya alasan mengapa aku bisa sebahagia ini. Sebahagia melihat dia bahagia. Karena senyumnya? Tawanya? Belai lembut tangannya? Peluknya? Oh, bukan. Semuanya telah satu paket. Dia sungguh wanita sempurna. Izinkan aku mencintainya hingga nafas kembali kepadaMu, Tuhan. Lalu setelah itu, aku akan memintaMu untuk menyatukan kami kembali di taman firdausMu.

Aku tak ingin yang lain, Tuhan. Aku hanya ingin tetap sebahagia ini. Sebahagia memperhatikan ia. Wanitaku. Iya. Apa yang diinginkan oleh manusia seperti aku selain berhenti pada hal yang mampu membuatnya bahagia. Bukankah setiap manusia pasti menginginkan dan mencari hal tersebut. Dan kini? Lihat aku! Aku telah sampai pada puncak kebahagiaan, meski aku... hah? Aku sebenarnya siapa? Namaku? Oh, Tuhan tolong segera bantu aku menjawab segala tanya itu.

Lama aku menanti jawabMu, lalu...
“Alastu birabbikum (Bukankah aku ini Tuhanmu)”
“Balaa, syahidnaa (Benar, kami bersaksi –atas itu-)”
Seketika aku langsung bersujud di ruang sempit itu. Seraya memohon ampun.
“Maafkan hambaMu yang bodoh ini, Tuhan. Terima kasih untuk ruh yang telah kau titipkan pada hambaMu yang hina ini. Hamba mohon agar Kau tetapkan aku untuk berada di garisMu. Sungguh aku menjadi saksi atas kebesaranMu. Ampuni aku, Tuhan.”

Dan ternyata aku hanya segumpal darah yang telah berubah menjadi segumpal daging dan baru saja dititipi ruh. Usiaku baru 4 bulan. Aku tercekat. Lalu tak mampu berkata apa-apa selain memujiNya. KebesaranNya. KeagunganNya. Terima kasih, Tuhan.

Wanita itu? Wanita yang mampu menjadi satu-satunya alasanku untuk berbahagia. Dia, ibuku. Calon ibuku. Terima kasih atas kebahagiaanmu menyambutku, bu. Andai kau tahu, aku pun bahagia. Sangat bahagia. Senyummu, tawamu, belai lembut tanganmu, pelukmu mampu menambah setiap inchi kebahagiaanku.

Bu, aku mencintaimu. Sejak pertama kali ruh ditiupkan kepadaku. Dan sampai ruh ini kembali kepadaNya dan berganti dengan keabadian, aku tetap mencintaimu.

Selasa, 10 September 2013

Perihal aku, kamu, kita

Aku, kamu berbeda
Hanya saja, kita sama
Aku, suka kemilau embun pagi yang tersorot mentari
Kamu, suka padanan warna di langit senja
Kita, sama-sama suka menceritakannya

Aku, kamu berbeda
Hanya saja, kita sama
Aku, pecinta senyum paling memesona
Kamu, pemikir hebat tentang segala
Kita, sama-sama istimewa

Aku, kamu berbeda
Hanya saja, kita sama
Aku, lugu, sederhana menyikapi cinta
Kamu, pemilik cinta paling sempurna
Kita, sama-sama membiarkannya

Aku, kamu berbeda
Hanya saja, kita sama
Aku, si penggalau pilihan
Kamu, si simpel keputusan
Kita, sama-sama tak tahu masa depan

Aku tak sedang mebicarakan kita
Kamu tak sedang membaca perihal kita
Kita sedang sama-sama memahami makna kita

Jumat, 31 Mei 2013

Si Bontot yang Belajar Berdiri di Atas Dua Kakinya Sendiri


Memang belum mampu sempurna aku berdiri tegak di atas dua kakiku sendiri, hanya saja setidaknya aku sedang berusaha untuk memampukan diri. Itu yang kutau saat ini.


Aku bukanlah seseorang yang berasal dari keluarga terpandang. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Rumah orang tuaku dulunya adalah sebuah pabrik. Yang kemudian dijadikan rumah karena tak lagi mampu untuk membayar uang sewa rumah. Pabrik yang dulunya digunakan untuk berproduksi pun tak lagi beroperasi karena kebangkrutann yang dialami ayah. Tapi ayah tak pernah menyerah. Ia mulai mencari pekerjaan yang lain untuk menyambung hidup keluarganya. Ah iya, pabrik ayah itu bukan pabrik seperti kebanyakan pabrik di jabodetabek lho. Pabrik itu mempunyai luas “6 bata” (ini istilah di sunda, aku kurang begitu tau ukuran pasnya dalam satuan meter), cukup besar memang hanya saja yang mampu untuk ditinggali adalah setengah bagian pabrik. Karena pabrik itu sudah terlalu sepuh, sehingga setengah bagian roboh karena dimakan usia, hehe. Setengah bagian pabrik itu ayah renov hingga mempunyai dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Rumah kami tak berdindingkan tembok yang kokoh. Dinding rumah kami begitu istimewa, ia banyak memiliki ruang ventilasi udara, sehingga jika pagi datang, cahaya matahari dapat mudah masuk melalui celah-celah dinding rumah kami. Ya, dinding rumah kami dari anyaman bambu (atau di sunda lebih dikenal dengan bilik). Alas rumah pun bukan dari lantai atau tembok atau pun kayu, alas rumah kami natural dari alas bumi pemberian Allah; tanah. Ini berlangsung sampai aku berusia kurang lebih 12 tahun atau saat aku duduk di kelas 1 Mts. Lalu apa yang kedua orang tuaku ajarkan selama 12 tahun itu? Sabar dan syukur. Ah, aku meneteskan air mata untuk sampai pada dua kata itu. Hehehe


Aku adalah si bontot, anak keempat dari empat bersaudara. Biarkan kuceritakan sedikit tentang keistimewaan aku di keluargaku, hehehe

Aku anak perempuan satu-satunya. Saudaraku semuanya berjenis kelamin laki-laki. Oke, bisa dibayangkan dong, si bontot dan anak perempuan satu-satunya? Yap! Dimanja. Tapi tak pernah aku suka kata “dimanja” itu, aku selalu mendoktrin diri bahwa “aku bukanlah anak manja!” mungkin doktrin ini pula yang kemudian mengantarkan aku ke kampus STEI SEBI ini. Seolah ini adalah pembuktian bahwa aku tidaklah manja dan aku mampu untuk hidup mandiri, jauh dari orang tua.


Bukanlah satu hal yang mudah tinggal jauh dari orang tua. Kini tak kupungkiri bahwa aku memanglah manja dan dimanja. Masa lalu yang mungkin tidak berlimpah materi tapi aku salah satu anak yang tidak pernah kehausan kasih sayang. Ayah, ibu ataupun kakak selalu punya cara untuk bisa mengubah tangisku jadi tawa. Masih teringat saat aku merengek meminta mainan yang semua anak seumuranku pasti mempunyai mainan itu, tamagoci. Saat itu ayah dan ibu terus membujukku agar tidak terus menangis, meminta agar aku tau bahwa ayah dan ibu sedang tidak mempunyai uang untuk membelikan aku tamagoci itu, tapi dulu aku masih kecil dan tidak mengerti akan kondisi keluarga saat itu. Setelah ayah dan ibu tak mampu menghentikan tangisku, giliran kakak menepuk punggungku, “neng, ikut aa yuk! Aa beliin tamagoci deh buat neng, tapi neng jangan nangis lagi ya!’. Seketika aku menganggukan kepala. Dan aku baru tau kalau kakak membelikanku tamagoci itu dari uang iuran sekolah yang sebenarnya sudah ditagih oleh pihak sekolah. Tapi aku tak tau bagaimana cara kakak untuk menutupi kekurangan uang iurann itu. Mungkin itu bisa menggambarkan betapa manja dan dimanjanya aku, si bontot itu, hehehe.


Setelah disini? Jauh dari keluarga apa yang kurasakan? Tentu merasa kehilangan dan tak bisa bermanja ria. Iyalah, mau manja pada siapa? Sedang disini aku benar sendiri, tak ada sanak saudara yang mungkin bisa kumintai tolong. Bermula dari sana aku bermisi untuk mempunyai teman yang banyak. Mulai sok kenal, sok deket, sok asik pada setiap orang yang kutemui disini. Oh iya, aku selain aku tak punya sanak saudara aku pun tidak kenal satu orang pun disini, kecuali kakak-kakak yang dulu sosialisasi ke sekolah.


Oke, singkat cerita aku pun mempunyai banyak teman. Tapi ada satu yang ku lupa. Aku lupa mencari sahabat. Aku cukup berteman baik dengan orang-orang disini, hanya saja aku lupa untuk meminta dan menawarkan diri pada orang yang mungkin bisa kupercaya untuk jadi sahabat. Itu kusadari setelah tinggal 1 tahun di sini. Ah, waktu yang cukup lama untuk menyadari kebodohan sendiri. Sampai pada akhirnya aku pun mulai terbuka pada teman-teman dekatku untuk berbagi cerita. Dan menjadikan mereka sahabat-sahabatku. Terima kasih kepada semua sahabat SMLL yang telah menjadi keluargaku disini. Semoga kebaikan akan tetap menyelimuti kita semua. Aamiin.


Kepada teteh tercintaku, Anggia Fitriana. Terima kasih atas canda tawanya, sungguh teteh orang baik, asik juga bijak. Dan terima kasih juga pada setiap orang serta setiap masalah yang kutemui dan kudatangi selama 2 tahun ini, yang telah mengajariku hidup yang sebenarnya hidup, mengajariku kedewasaan, mengajariku untuk berdiri di atas kedua kakiku sendiri.

Minggu, 26 Mei 2013

Biarkan Berlalu Dengan Apa Adanya


Tahukah kenapa canda tawa bisa mengurai air mata? Ya, mungkin karena canda tawa itu kini hanya menjelma kenangan yang ingin segera dilupakan. Sakit? Memang. Aku pun begitu.

Mungkin menurutmu aku bahagia karena sungguh akulah yang mencipata setiap luka itu. Tapi tahukah kamu? Sakit yang kurasa lebih dari yang kau rasa. Aku cinta, kemudian aku sendiri yang harus menyakiti. Aku sayang, kemudian aku yang menghilang. Menangisi kenangan, itu yang kulakukan setelah perpisahan.

Kini? Aku masih mengurai luka. Hanya saja mungkin aku kini telah kebal dengan segala hantaman berbentuk kenangan. Aku hanya menertawai betapa kejamnya aku. Betapa kekanak-kanakannya aku. Betapa emosinya aku. Betapa aku mencintaimu :’)

Sudahlah. Saatnya kau mengejar mimpi yang tetunda. Bangkit! Semangat! Tinggalkan segala hal yang membuatmu menghentikan langkah, termasuk aku. Jika aku hanya membuatmu diam tak beranjak. Move! –itu katamu, bukan? Biarkan semua berlalu dengan apa adanya. Toh pada akhirnya waktu yang akan menyembuhkan lukamu. Yakin saja ada rahasia terbaik yang tengah disiapkan untukmu.

Kuingin..., ah sudahlah jangan bicara keinginanku. Mungkin kau juga lelah mendengarkan segala inginku. Hehehe

Sekarang lakukan saja apa yang membuatmu bahagia. Kau guru terbaik yang pernah kutemui. Mengajarkan keberanian menghadapi hidup. Terima kasih. Semoga aku pun sama sepertimu, menyisakan kebaikan.

Senin, 04 Februari 2013

I Need You!


Aku terlalu banyak berharap, sepertinya. Kukira kau akan rela meninggalkan setumpuk pekerjaanmu di sana untuk sekedar melihat keadaanku, tapi ternyata tidak.

Ya, seharusnya aku tak menumpukkan harapan karena itu hanya akan membuatku terperosok jauh ke dalam ruang yang tak pernah kusediakan. Kekecewaan.

Maaf, karena mungkin surat ini membuatmu sakit atau entah seperti apa. Tapi, jujur aku kecewa dengan surat balasanmu kemarin. Seolah tak lagi ada kekhawtiran. Mungkin sudah ada yang lebih kau khawatirkan dari pada aku, yang tak lagi punya tahta di relung terdalammu. Ah, entahlah! Kini aku tak lagi mempunyai stock untuk berpikir positif.

Mungkinkah kau telah menemukan kebahagiaan baru di sana?
Atau mungkin kau telah bosan dengan jarak ini?

Mungkin dan hanya mungkin yang bisa kupertanyakan. Karena nyatanya aku tak tau seperti apa kau disana. Tak tau dasar lubuk hatimu. Pernah kutanya kau tentang keseriusan. Jawabmu memang tak meragukan, tapi juga tak meyakinkan. Iya, aku tau kau tak mau memberi janji yang tak pasti. Tapi setidaknya tolong yakinkan aku bahwa aku sedang tak salah memilih. Berhenti dan menunggu di tempat yang salah. Jujur saja aku juga bosan dengan jarak ini, apalagi dengan segala aktifitas kita yang mengharuskan kita bertemu hanya di selembar surat. Aku ingin mendapat kesempatan seperti yang lain. Bertemu kamu. Berbicara. Atau hanya sekedar melempar tawa. Apalagi dengan keadaanku yang seperti ini. Aku butuh kamu, Mas. Kamu dimana?

Di kota yang terpisah jarak? Benarkah?
Kini aku mengira kau ada di sana.
Di ruang bernama impian.
Semu.
Samar.
Tak nyata.

Bolehkah aku memintamu untuk  sekedar mengusap kepalaku? Menyandarkanku dihangatnya pelukmu? Tapi dimana kamu? Saat ku terbangun, penuh harapku kau ada disampingku. Tertidur karena lelah menungguku terbangun. Tapi ternyata itu hanya sisa mimpi semalam. Dan pagi ini kudisuguhi kekecewaan –lagi.

Ah aku lemah oleh jarak Bogor – Tasikmalaya.

Kamis, 31 Januari 2013

Masih Ada Senyum 7cm


Pesanmu yang kemarin kubaca membentuk tawa kecil, mas. Kau menanyakan kesetiaanku? Apa kau tak salah berpesan? Hehe. Iya, aku mengerti kegelisahanmu. Tapi kuharap kau percaya padaku. Pada komitmen yang sama-sama kita perjuangkan lebih dari 4 tahun terakhir. Tak banyak kata yang ingin kutulis untuk kembali meyakinkanmu. Kuharap 4 tahun kemarin bisa membuatmu percaya pada kesetiaanku. Tak hanya kamu yang percaya aku, juga aku yang terus berusaha menambah kepercayaan padamu, pada kesetiaanmu :’)

Bagaimana kabarmu, Mas? Kali ini aku kembali mengulur waktu untuk sekedar mengobati rindu. Maaf. Bukan karena ku tak mau, atau tak ingat. Sudah 3 hari ini aku hanya terbaring di atas kapuk keras bernama kasur. Aku merasa punggungku kini perih meski beralas tempat empuk. Ah, aku ingin berdiri atau hanya sekedar duduk seperti saat ini. Ini kali pertama aku menguatkan diri untuk menegakkan pinggang dan meluruskan punggung. Meski rintih kaki berteriak tanpa suara, memintaku untuk kembali merebahkan diri. Tapi mas tak perlu khawatir, karena senyum 7cm-ku masih terlukis jelas di segurat paras manisku, hehe.

Oh iya, mas juga tak perlu khawatir karena kini aku sudah mendapatkan perawatan lebih insentif dari para dokter. Setelah berharap perawatan di rumah akan mengobati sakit di kakiku. Meski pada hari dimana aku terjatuh, ibu langsung merayuku untuk sudi dirawat di hotel tak berjendela. Sesak, anggapku.

Kau pasti tau bagaimana keukeuhnya aku saat ibu merayuku agar mau diajak ke rumah sakit. Kau juga pasti tau bagaimana manjanya aku meminta ayah untuk berhenti marajukku untuk hal yang sama. Tapi kali ini aku kalah sesaat setelah melihat tangis di kedua mata ibu. Akhirnya aku mengangguk untuk pinta ibu yang kesekian kalinya.

Kakiku sudah mulai terasa pegal, mas. Maaf karena aku tak bisa bercerita banyak tentang keseharianku disini. Pasti kau tau bagaimana keseharian orang yang terpenjara dinding rumah sakit. Doakan aku agar cepat mendapat remisi. Aku berjanji akan segera keluar dari ruang sempit ini. Tapi aku tak bisa berjanji untuk keluar dari jerat rindu akanmu.

Salam bersayap doa untukmu serta keluargamu.
Dari aku yang masih tak mau pergi dari harap yang sama. Kamu.

#aku sertakan dalam surat ini foto sesaat sebelum aku terjatuh dari motor. dan senyum itu masih terjaga sampai saat ini, Mas. Jadi Mas tak perlu khawatir :)


Senin, 28 Januari 2013

Ada Dia diantara kita


Maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama. Hanya demi sehelai kertas berisi balasan dariku. Pasti kamu khawatir kan? Takut terjadi apa-apa padaku, si pencuri hatimu. Hehe

Kemarin aku tidak melihat warna langit di kotaku. Apakah ia mendung dan cemberut manja karena merindukan angin untuk mengusir segala dukanya. Atau bahkan cerah, secerah aku saat membaca susunan hurufmu yang membentuk kata. Ya kata cinta. 
Kali ini kau benar lagi, Mas. Alisku kembali bartautan. Aku tak mengerti bahasa cintamu. Yang kumengerti dari suratmu yang lalu hanya satu.

“Sebenarnya, aku lebih suka memaknai cinta dengan sederhana.
Dengan menikahimu, itu saja.”

Ah. Kesederhanaan yang memukau.
Terimakasih atas jawabanmu yang membuatku tersipu. Malu. Sungguh padanan kata yang rima lagi mesra. Maaf karena aku tak bisa membalas suratmu dengan kalimat yang lebih pantas untuk kau baca. Kataku telah habis kau curi. Yang kau sisakan di kotak kataku hanya satu kata. Kamu.

Ah iya aku belum bercerita mengenai kenapa aku begitu telat membalas suratmu. Kemarin aku terpenjara oleh dinding-dinding bernama deadline. Terkadang aku bosan dengan segalah rutinitas yang kujalani. Tapi tak ada gunanya aku mengeluh, itu hanya akan membuatku terlihat lebih lusuh dan rapuh. Satu yang tak pernah bosan kulakukan. Eits bukan memikirkanmu. Bukan juga mencintaimu atau menyayangimu. Aku sudah lelah membuatmu tersenyum sendiri melihat secarik kertas bertitimangsakan Kota Tasikmalaya, hehehe. Rutinitas yang tak pernah bosan kulakukan adalah mengharapkan Sang Penulis takdir menakdirkan namamu di surat cinta-Nya untukku. Lauhul Mahfuzh.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Hehe
Salam rindu untukmu, Masku.

Jumat, 25 Januari 2013

A hingga Z


Alhamdulillahirabbil’alamiin. Titip peluk untuk Ibu yang begitu kuat. Aku selalu teringat pesannya mengenai si kembar sabar dan syukur. Sungguh Ibumu adalah aktor kawakan dalam hal itu. Terimaksih bu, untuk segala nilai yang kau ajarkan. Bukan dengan lisan atau tulisan, tetapi dengan perlakuan. Sungguh tak ada cara pengajaran yang lebih baik selain dengan mempraktikan apa yang telah dipelajari. Mas, sampaikan pada ibumu, sungguh dia adalah sosok ibu inspirasi kedua dalam hidupku. Ya, setelah ibuku-tentunya.

Jangan menyindirku seperti itu. Aku bukan seorang yang ahli dalam urusan dapur, Mas :(
Ah iya, tentu saja. Untuk menjaga orang lain kau harus menjaga dirimu sendiri. Memberikan waktu pada tubuh untuk berlabuh. Pada malam gelap yang membuat tidurmu lelap. Jika Tuhan mengizinkan, suatu hari nanti aku siap menggantikan bantal guling yang biasanya menemani malam sepimu. Membuatmu nyaman melabuhkan segala resah. Menjadikan udara malam menjadi lebih syahdu sebagai waktu paling tepat untuk memulangkan rindu. Pada aku, si pemilik rindumu.

Mas, apakah kau tau? Aku layaknya anak kecil yang baru menemukan kosa kata cinta. Berusaha mengungkapkannya dengan segala kata yang kupunya. Sehingga tercipta bahasaku yang rumit dan berbelit. Padahal, aku hendak mengungkapan cintai itu dalam bentuk yang paling sederhana. Hanya  dalam satu bentuk. Ya dalam satu bentuk saja. Kamu.

Mas, aku mau tanya sesuatu. Dari sekian banyak huruf dari A hingga Z, kenapa tersusun kata C-I-N-T-A untuk mewakili rasa rindu, benci, senang, sedih, kesal, cemas, takut, khawatir dan tentunya rasa yang lain ikut kedalam satu kata tersebut? Kenapa lima huruf itu yang tersusun, Mas? Ah, pertanyaan bodoh memang. Tapi terimakasih jika bersedia untuk menjawabnya :)



Salam rindu dari aku yang ingin tau jawabanmu, hehe
Je te’aime.

Rabu, 23 Januari 2013

Rindu tawa renyahmu, Bu

Innalillahi. Ibu sakit apa, Mas?

Kini fokusku malah tersita pada kesembuhan Ibu. Tak perlu kau memintaku untuk mendoakan kesembuhan Ibu, disetiap sujud terakhirku selalu teruntai sebaris doa untukmu, untuk ibumu, untuk keluargamu. Berharap suatu saat nanti tak ada lagi keluargaku atau keluargamu, yang ada hanya keluarga kita. Mencipta doa berdua untuk mereka, keluarga kita.

Mas, kini tak usah kau pikirkan aku. Sesaat setelah membaca suratmu segurat senyum kembali tercipta di paras polosku. Suratmu membuat hati dan kecemasan itu beku lalu mencair mencipta seuntai senyum mengembang tanda kelegaan. Entah bagian kata mana yang membuatku lega. Biarlah, aku tak peduli dengan hal itu.

Oh iya, sekarang orangtuaku mengerti akan senyum palsuku. Mengerti pada tangis bungkamku. Mengerti akan kepura-puraan pada ketidaknyamananku selama ini. Aku tak sempat berucap pada mereka. Mereka seolah peramal ulung, tau saat bibir membisu. Mengerti saat hati menjerit rintih. Serta paham pada diam.

Ah, jujur aku bagai orang linglung setelah tau kabar Ibu. Bagaimana kabar Ibu sekarang? Ibu cepet sehat dong :3

Biasanya tawa renyah Ibu selalu hadir didinginnya malam. Menjadi penghangat di keluarga kecilmu. Ternyata selain aku merindukanmu, aku juga merindukan ia yang selama ini menjaga dan merawatmu. Titip salam untuk Ibu disana. Sampaikan maaf karena belum bisa bertatap muka, mengusap setiap tetes keringat di panas tubuhnya, menyuapi bubur yang mungkin akan sering ia tolak, memberikan teh manis hangat di tengah dingiinya dinding rumah sakit. Maafkan aku ibu.

Allahumma rabbannas adzhibilba’ sa asyfi antasysyafi la syifauka syifa’ an la yughadiru saqamaa. Aamiin.
 

Senin, 21 Januari 2013

Garis Kesetiaan

Di setiap pagi, kutunggu pak pos mengetuk pintu mengantarkan surat darimu. Tapi tak ada.
Siang, kala sang surya menampakkan cahayanya dengan gagah tak lantas menyurutkan semangatku untuk menanti suratmu. Tapi tak ada juga.
Oh tenang. Ada gelap malam yang mungkin akan menghantarkan ceritamu lewat selembar surat. Tetap tak ada.

4 hari kulalui dengan penuh bimbang. Bertanya-tanya akan kabarmu, menanti ceritamu, berharap kebaikan dan kebahagiaan memelukmu erat. Lalu nyaman dalam pelukanmu seolah tak mau pergi. Seperti halnya aku. Yang rindu akan nyamannya berada di pelukmu.

Langit pagiku disini cerah, mas. Tak seperti halnya suasana mendung yang melingkupi hati dan perasaan ini. Sebenarnya aku tak mau menceritakan hal ini. Tapi komunikasi yang mencipta kepercayaan. Kepercayaan yang mencipta kesetiaan. Lalu kesetiaan yang mencipta kebahagiaan. Itu katamu.

Saat tiba selembar ceritamu di kotak surat rumahku. Bukan senyum lagi yang menghiasi parasku. Bukan buncah bahagia yang menyesaki dada. Melainkan isak tangis di kedua mataku. Ada rasa bernama duka menyesaki dada. Kamu tau karena apa, mas? Ya tentu, bukan karena kata manis yang kau buat. Bukan karena bahasa cintamu. Juga bukan karena kabar rindumu. Melainkan karena aku dan perjodohan itu.

Entah harus berapa kali kutegaskan pada ayah dan ibu. Agar mengerti rasaku yeng tercipta alami begitu saja untukmu. Untuk orang yang kusayangi. Aku menangis tersedu saat ada lelaki datang ke rumahku 2 hari yang lalu. Meminta kesiapanku. Ibu mulai mengerti akan keriasauan hatiku, sehingga menyuruh lelaki itu untuk memberi waktu padaku. Pada jawaban yang tak akan pernah aku jawab ‘IYA’. Karena sejatinya telah aku persiapkan jawaban itu hanya untukmu. Satu nama. @Mas_Aih.

Taukah kamu? Tetes air mata itu masih tercipta sampai detik kumenulis surat ini. 5 hari lagi lelaki itu akan kembali datang untuk menagih jawabanku. Beritahu aku mas, apa yang harus aku katakan. Bukan kepada lelaki itu, tapi kepada ayah dan ibu yang terlanjur malu karena terlalu sering menolak pinangan, padahal ayahlah yang meminta lelaki-lelaki itu datang ke rumah. Iya, mungkin ayah melakukan ini karena terlalu sayang pada aku, anak perempuan satu-satunya. Tapi sungguh aku tak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Ingin rasanya aku berlari mencarimu, tapi aku seolah kehilangan arah. Desakan dari berbagai arah tiba-tiba datang dan menuntutku banyak hal. Aku ingin berteriak di pelukmu. Menangis sejadi-jadinya. Dan memintamu untuk membawaku berlari. Lari meski untuk satu hari. Demi mencipta damai dan tenang dalam pikirku. Agar aku tak salah melangkah. Agar aku tetap berada di garis kesetiaan. Garis yag selama ini kita perjuangkan demi satu tujuan. Kebahagiaan.

Maaf, mas. Jika surat ini malah membebanimu. Malah membuatmu khawatir dan mungkin sedih. Ah pikiranku sudah mulai kacau. Mungkinkah kamu merasakan kesedihan? Atau...... ah sudahlah jadi banyak prasangka menghantui ketakutanku.

Terimakasih mas untuk sempat membaca ceritaku. Semoga kau baik. Bahagia. Kutunggu surat kilatmu.
Tertanda aku. Masih menunggu dengan setia.

Selasa, 15 Januari 2013

Surat kecil ini untukmu, dari aku penanti setiamu.


Aku sudah terima suratmu, mas.

Benar ucapmu. Saat aku membaca suratmu, alisku bertautan pertanda aku tak begitu mengerti akan bahasa rindumu. Tapi kutelan semua aksara yang kau tulis sehingga aku menciptakan anggukan. Ya! Aku pun rindukanmu.

Entah apa yang menjadi sebab senyum simpul tercipta di segurat wajahku saat kueja tiap kata yang kau tulis. Entah apa yang kurasa, semesta gempita tiba-tiba memenuhi rongga dada. Sesak akan bahagia. Ah, kamu membuatku merasa paling berarti –lagi.
Mas, rasa itu bernama apa? Beritahu aku. Bibir menyungging manis sesaat kudapati kabarmu. Hati menggeliat lincah saat pak pos mengirimkan surat darimu. Mata begitu berbinar kala kulihat ada namamu ditumpukan kotak surat rumahku. Namun, hati resah saat tak ada kabar apapun darimu. Membuat pikiranku hanya dipenuhi tanya tentangmu. Apa kau sakit atau kau bosan dengan jarak ini? Sehingga kau memutuskan untuk mencari hati yang lain. Mengarahkan tujuan akhir bukan padaku. Ah, ketakutan itu nyata! Eh, kok aku malah bahas hal itu ya? Hehe..

Kabar aku baik, mas.
Masih setia menjaga rasa itu dengan apik.
Meski kadang tercabik :p
Mas apa kabar dengan jarak 7 jam memisahkan kita? Masihkah kau setia meminta secangkir kopi hangat di pagi hari dengan rengekan manja? Hehe.. Aku suka cara manjamu. Membuatku merasa perlu untuk selalu disisimu. Kutahu saat ini kau tengan tersenyum. Membayangkan setiap jejak yang pernah terlewat, dulu saat kita masih bersua di ruang yang sama.

Entahlah begitu sulit kumembahasakan rindu. Aku hanya ingin kau tahu, disini pun ku rindui bau tubuhmu. Peluk hangatmu. Tawa riangmu. Tatap manjamu. Ah, semuanya. Segalanya.
Semoga surat pendek ini mewakili adaku, mas. Aku ada, meski tak terlihat. Aku nyata, meski tak bisa kau raba. Eh bentar mas, kok jadi serem ya? Hahah biarlah. Tak mau aku menghapus kata yang sudah tertulis sepertihalnya aku tak mau menghapus segala kenangan dan mimpi kita.

Surat kecilku, titip usap manja untuk dia, aktor utama di setiap mimpi indah juga burukku. Dari aku, penanti setianya.