Senin, 28 Januari 2013

Ada Dia diantara kita


Maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama. Hanya demi sehelai kertas berisi balasan dariku. Pasti kamu khawatir kan? Takut terjadi apa-apa padaku, si pencuri hatimu. Hehe

Kemarin aku tidak melihat warna langit di kotaku. Apakah ia mendung dan cemberut manja karena merindukan angin untuk mengusir segala dukanya. Atau bahkan cerah, secerah aku saat membaca susunan hurufmu yang membentuk kata. Ya kata cinta. 
Kali ini kau benar lagi, Mas. Alisku kembali bartautan. Aku tak mengerti bahasa cintamu. Yang kumengerti dari suratmu yang lalu hanya satu.

“Sebenarnya, aku lebih suka memaknai cinta dengan sederhana.
Dengan menikahimu, itu saja.”

Ah. Kesederhanaan yang memukau.
Terimakasih atas jawabanmu yang membuatku tersipu. Malu. Sungguh padanan kata yang rima lagi mesra. Maaf karena aku tak bisa membalas suratmu dengan kalimat yang lebih pantas untuk kau baca. Kataku telah habis kau curi. Yang kau sisakan di kotak kataku hanya satu kata. Kamu.

Ah iya aku belum bercerita mengenai kenapa aku begitu telat membalas suratmu. Kemarin aku terpenjara oleh dinding-dinding bernama deadline. Terkadang aku bosan dengan segalah rutinitas yang kujalani. Tapi tak ada gunanya aku mengeluh, itu hanya akan membuatku terlihat lebih lusuh dan rapuh. Satu yang tak pernah bosan kulakukan. Eits bukan memikirkanmu. Bukan juga mencintaimu atau menyayangimu. Aku sudah lelah membuatmu tersenyum sendiri melihat secarik kertas bertitimangsakan Kota Tasikmalaya, hehehe. Rutinitas yang tak pernah bosan kulakukan adalah mengharapkan Sang Penulis takdir menakdirkan namamu di surat cinta-Nya untukku. Lauhul Mahfuzh.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Hehe
Salam rindu untukmu, Masku.

1 komentar: