Rabu, 23 Januari 2013

Rindu tawa renyahmu, Bu

Innalillahi. Ibu sakit apa, Mas?

Kini fokusku malah tersita pada kesembuhan Ibu. Tak perlu kau memintaku untuk mendoakan kesembuhan Ibu, disetiap sujud terakhirku selalu teruntai sebaris doa untukmu, untuk ibumu, untuk keluargamu. Berharap suatu saat nanti tak ada lagi keluargaku atau keluargamu, yang ada hanya keluarga kita. Mencipta doa berdua untuk mereka, keluarga kita.

Mas, kini tak usah kau pikirkan aku. Sesaat setelah membaca suratmu segurat senyum kembali tercipta di paras polosku. Suratmu membuat hati dan kecemasan itu beku lalu mencair mencipta seuntai senyum mengembang tanda kelegaan. Entah bagian kata mana yang membuatku lega. Biarlah, aku tak peduli dengan hal itu.

Oh iya, sekarang orangtuaku mengerti akan senyum palsuku. Mengerti pada tangis bungkamku. Mengerti akan kepura-puraan pada ketidaknyamananku selama ini. Aku tak sempat berucap pada mereka. Mereka seolah peramal ulung, tau saat bibir membisu. Mengerti saat hati menjerit rintih. Serta paham pada diam.

Ah, jujur aku bagai orang linglung setelah tau kabar Ibu. Bagaimana kabar Ibu sekarang? Ibu cepet sehat dong :3

Biasanya tawa renyah Ibu selalu hadir didinginnya malam. Menjadi penghangat di keluarga kecilmu. Ternyata selain aku merindukanmu, aku juga merindukan ia yang selama ini menjaga dan merawatmu. Titip salam untuk Ibu disana. Sampaikan maaf karena belum bisa bertatap muka, mengusap setiap tetes keringat di panas tubuhnya, menyuapi bubur yang mungkin akan sering ia tolak, memberikan teh manis hangat di tengah dingiinya dinding rumah sakit. Maafkan aku ibu.

Allahumma rabbannas adzhibilba’ sa asyfi antasysyafi la syifauka syifa’ an la yughadiru saqamaa. Aamiin.
 

1 komentar: