Selasa, 15 Januari 2013

Surat kecil ini untukmu, dari aku penanti setiamu.


Aku sudah terima suratmu, mas.

Benar ucapmu. Saat aku membaca suratmu, alisku bertautan pertanda aku tak begitu mengerti akan bahasa rindumu. Tapi kutelan semua aksara yang kau tulis sehingga aku menciptakan anggukan. Ya! Aku pun rindukanmu.

Entah apa yang menjadi sebab senyum simpul tercipta di segurat wajahku saat kueja tiap kata yang kau tulis. Entah apa yang kurasa, semesta gempita tiba-tiba memenuhi rongga dada. Sesak akan bahagia. Ah, kamu membuatku merasa paling berarti –lagi.
Mas, rasa itu bernama apa? Beritahu aku. Bibir menyungging manis sesaat kudapati kabarmu. Hati menggeliat lincah saat pak pos mengirimkan surat darimu. Mata begitu berbinar kala kulihat ada namamu ditumpukan kotak surat rumahku. Namun, hati resah saat tak ada kabar apapun darimu. Membuat pikiranku hanya dipenuhi tanya tentangmu. Apa kau sakit atau kau bosan dengan jarak ini? Sehingga kau memutuskan untuk mencari hati yang lain. Mengarahkan tujuan akhir bukan padaku. Ah, ketakutan itu nyata! Eh, kok aku malah bahas hal itu ya? Hehe..

Kabar aku baik, mas.
Masih setia menjaga rasa itu dengan apik.
Meski kadang tercabik :p
Mas apa kabar dengan jarak 7 jam memisahkan kita? Masihkah kau setia meminta secangkir kopi hangat di pagi hari dengan rengekan manja? Hehe.. Aku suka cara manjamu. Membuatku merasa perlu untuk selalu disisimu. Kutahu saat ini kau tengan tersenyum. Membayangkan setiap jejak yang pernah terlewat, dulu saat kita masih bersua di ruang yang sama.

Entahlah begitu sulit kumembahasakan rindu. Aku hanya ingin kau tahu, disini pun ku rindui bau tubuhmu. Peluk hangatmu. Tawa riangmu. Tatap manjamu. Ah, semuanya. Segalanya.
Semoga surat pendek ini mewakili adaku, mas. Aku ada, meski tak terlihat. Aku nyata, meski tak bisa kau raba. Eh bentar mas, kok jadi serem ya? Hahah biarlah. Tak mau aku menghapus kata yang sudah tertulis sepertihalnya aku tak mau menghapus segala kenangan dan mimpi kita.

Surat kecilku, titip usap manja untuk dia, aktor utama di setiap mimpi indah juga burukku. Dari aku, penanti setianya.

9 komentar:

  1. keren Fa, aku suka. :')
    Hmmm, duh duh duh... Gak bisa ngomong apa-apa. Keren deh Wafa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang keren wafanya ya? haha :))

      Hapus
    2. Yadeh, puntung rokoknya juga keren, aksaranya yes, bukan orangnya :'))

      Hapus
  2. uuuh, menyentuh teeeh :')
    semoga penantiannya berakhir dengan takdir yang sempurna.

    BalasHapus
  3. Padahal aku gk baca surat dari @mas_aih nya. Tapi serasa ngerti. Aaak keren :")

    BalasHapus