Senin, 04 Februari 2013

I Need You!


Aku terlalu banyak berharap, sepertinya. Kukira kau akan rela meninggalkan setumpuk pekerjaanmu di sana untuk sekedar melihat keadaanku, tapi ternyata tidak.

Ya, seharusnya aku tak menumpukkan harapan karena itu hanya akan membuatku terperosok jauh ke dalam ruang yang tak pernah kusediakan. Kekecewaan.

Maaf, karena mungkin surat ini membuatmu sakit atau entah seperti apa. Tapi, jujur aku kecewa dengan surat balasanmu kemarin. Seolah tak lagi ada kekhawtiran. Mungkin sudah ada yang lebih kau khawatirkan dari pada aku, yang tak lagi punya tahta di relung terdalammu. Ah, entahlah! Kini aku tak lagi mempunyai stock untuk berpikir positif.

Mungkinkah kau telah menemukan kebahagiaan baru di sana?
Atau mungkin kau telah bosan dengan jarak ini?

Mungkin dan hanya mungkin yang bisa kupertanyakan. Karena nyatanya aku tak tau seperti apa kau disana. Tak tau dasar lubuk hatimu. Pernah kutanya kau tentang keseriusan. Jawabmu memang tak meragukan, tapi juga tak meyakinkan. Iya, aku tau kau tak mau memberi janji yang tak pasti. Tapi setidaknya tolong yakinkan aku bahwa aku sedang tak salah memilih. Berhenti dan menunggu di tempat yang salah. Jujur saja aku juga bosan dengan jarak ini, apalagi dengan segala aktifitas kita yang mengharuskan kita bertemu hanya di selembar surat. Aku ingin mendapat kesempatan seperti yang lain. Bertemu kamu. Berbicara. Atau hanya sekedar melempar tawa. Apalagi dengan keadaanku yang seperti ini. Aku butuh kamu, Mas. Kamu dimana?

Di kota yang terpisah jarak? Benarkah?
Kini aku mengira kau ada di sana.
Di ruang bernama impian.
Semu.
Samar.
Tak nyata.

Bolehkah aku memintamu untuk  sekedar mengusap kepalaku? Menyandarkanku dihangatnya pelukmu? Tapi dimana kamu? Saat ku terbangun, penuh harapku kau ada disampingku. Tertidur karena lelah menungguku terbangun. Tapi ternyata itu hanya sisa mimpi semalam. Dan pagi ini kudisuguhi kekecewaan –lagi.

Ah aku lemah oleh jarak Bogor – Tasikmalaya.