Kamis, 31 Januari 2013

Masih Ada Senyum 7cm


Pesanmu yang kemarin kubaca membentuk tawa kecil, mas. Kau menanyakan kesetiaanku? Apa kau tak salah berpesan? Hehe. Iya, aku mengerti kegelisahanmu. Tapi kuharap kau percaya padaku. Pada komitmen yang sama-sama kita perjuangkan lebih dari 4 tahun terakhir. Tak banyak kata yang ingin kutulis untuk kembali meyakinkanmu. Kuharap 4 tahun kemarin bisa membuatmu percaya pada kesetiaanku. Tak hanya kamu yang percaya aku, juga aku yang terus berusaha menambah kepercayaan padamu, pada kesetiaanmu :’)

Bagaimana kabarmu, Mas? Kali ini aku kembali mengulur waktu untuk sekedar mengobati rindu. Maaf. Bukan karena ku tak mau, atau tak ingat. Sudah 3 hari ini aku hanya terbaring di atas kapuk keras bernama kasur. Aku merasa punggungku kini perih meski beralas tempat empuk. Ah, aku ingin berdiri atau hanya sekedar duduk seperti saat ini. Ini kali pertama aku menguatkan diri untuk menegakkan pinggang dan meluruskan punggung. Meski rintih kaki berteriak tanpa suara, memintaku untuk kembali merebahkan diri. Tapi mas tak perlu khawatir, karena senyum 7cm-ku masih terlukis jelas di segurat paras manisku, hehe.

Oh iya, mas juga tak perlu khawatir karena kini aku sudah mendapatkan perawatan lebih insentif dari para dokter. Setelah berharap perawatan di rumah akan mengobati sakit di kakiku. Meski pada hari dimana aku terjatuh, ibu langsung merayuku untuk sudi dirawat di hotel tak berjendela. Sesak, anggapku.

Kau pasti tau bagaimana keukeuhnya aku saat ibu merayuku agar mau diajak ke rumah sakit. Kau juga pasti tau bagaimana manjanya aku meminta ayah untuk berhenti marajukku untuk hal yang sama. Tapi kali ini aku kalah sesaat setelah melihat tangis di kedua mata ibu. Akhirnya aku mengangguk untuk pinta ibu yang kesekian kalinya.

Kakiku sudah mulai terasa pegal, mas. Maaf karena aku tak bisa bercerita banyak tentang keseharianku disini. Pasti kau tau bagaimana keseharian orang yang terpenjara dinding rumah sakit. Doakan aku agar cepat mendapat remisi. Aku berjanji akan segera keluar dari ruang sempit ini. Tapi aku tak bisa berjanji untuk keluar dari jerat rindu akanmu.

Salam bersayap doa untukmu serta keluargamu.
Dari aku yang masih tak mau pergi dari harap yang sama. Kamu.

#aku sertakan dalam surat ini foto sesaat sebelum aku terjatuh dari motor. dan senyum itu masih terjaga sampai saat ini, Mas. Jadi Mas tak perlu khawatir :)


Senin, 28 Januari 2013

Ada Dia diantara kita


Maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama. Hanya demi sehelai kertas berisi balasan dariku. Pasti kamu khawatir kan? Takut terjadi apa-apa padaku, si pencuri hatimu. Hehe

Kemarin aku tidak melihat warna langit di kotaku. Apakah ia mendung dan cemberut manja karena merindukan angin untuk mengusir segala dukanya. Atau bahkan cerah, secerah aku saat membaca susunan hurufmu yang membentuk kata. Ya kata cinta. 
Kali ini kau benar lagi, Mas. Alisku kembali bartautan. Aku tak mengerti bahasa cintamu. Yang kumengerti dari suratmu yang lalu hanya satu.

“Sebenarnya, aku lebih suka memaknai cinta dengan sederhana.
Dengan menikahimu, itu saja.”

Ah. Kesederhanaan yang memukau.
Terimakasih atas jawabanmu yang membuatku tersipu. Malu. Sungguh padanan kata yang rima lagi mesra. Maaf karena aku tak bisa membalas suratmu dengan kalimat yang lebih pantas untuk kau baca. Kataku telah habis kau curi. Yang kau sisakan di kotak kataku hanya satu kata. Kamu.

Ah iya aku belum bercerita mengenai kenapa aku begitu telat membalas suratmu. Kemarin aku terpenjara oleh dinding-dinding bernama deadline. Terkadang aku bosan dengan segalah rutinitas yang kujalani. Tapi tak ada gunanya aku mengeluh, itu hanya akan membuatku terlihat lebih lusuh dan rapuh. Satu yang tak pernah bosan kulakukan. Eits bukan memikirkanmu. Bukan juga mencintaimu atau menyayangimu. Aku sudah lelah membuatmu tersenyum sendiri melihat secarik kertas bertitimangsakan Kota Tasikmalaya, hehehe. Rutinitas yang tak pernah bosan kulakukan adalah mengharapkan Sang Penulis takdir menakdirkan namamu di surat cinta-Nya untukku. Lauhul Mahfuzh.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Hehe
Salam rindu untukmu, Masku.

Jumat, 25 Januari 2013

A hingga Z


Alhamdulillahirabbil’alamiin. Titip peluk untuk Ibu yang begitu kuat. Aku selalu teringat pesannya mengenai si kembar sabar dan syukur. Sungguh Ibumu adalah aktor kawakan dalam hal itu. Terimaksih bu, untuk segala nilai yang kau ajarkan. Bukan dengan lisan atau tulisan, tetapi dengan perlakuan. Sungguh tak ada cara pengajaran yang lebih baik selain dengan mempraktikan apa yang telah dipelajari. Mas, sampaikan pada ibumu, sungguh dia adalah sosok ibu inspirasi kedua dalam hidupku. Ya, setelah ibuku-tentunya.

Jangan menyindirku seperti itu. Aku bukan seorang yang ahli dalam urusan dapur, Mas :(
Ah iya, tentu saja. Untuk menjaga orang lain kau harus menjaga dirimu sendiri. Memberikan waktu pada tubuh untuk berlabuh. Pada malam gelap yang membuat tidurmu lelap. Jika Tuhan mengizinkan, suatu hari nanti aku siap menggantikan bantal guling yang biasanya menemani malam sepimu. Membuatmu nyaman melabuhkan segala resah. Menjadikan udara malam menjadi lebih syahdu sebagai waktu paling tepat untuk memulangkan rindu. Pada aku, si pemilik rindumu.

Mas, apakah kau tau? Aku layaknya anak kecil yang baru menemukan kosa kata cinta. Berusaha mengungkapkannya dengan segala kata yang kupunya. Sehingga tercipta bahasaku yang rumit dan berbelit. Padahal, aku hendak mengungkapan cintai itu dalam bentuk yang paling sederhana. Hanya  dalam satu bentuk. Ya dalam satu bentuk saja. Kamu.

Mas, aku mau tanya sesuatu. Dari sekian banyak huruf dari A hingga Z, kenapa tersusun kata C-I-N-T-A untuk mewakili rasa rindu, benci, senang, sedih, kesal, cemas, takut, khawatir dan tentunya rasa yang lain ikut kedalam satu kata tersebut? Kenapa lima huruf itu yang tersusun, Mas? Ah, pertanyaan bodoh memang. Tapi terimakasih jika bersedia untuk menjawabnya :)



Salam rindu dari aku yang ingin tau jawabanmu, hehe
Je te’aime.

Rabu, 23 Januari 2013

Rindu tawa renyahmu, Bu

Innalillahi. Ibu sakit apa, Mas?

Kini fokusku malah tersita pada kesembuhan Ibu. Tak perlu kau memintaku untuk mendoakan kesembuhan Ibu, disetiap sujud terakhirku selalu teruntai sebaris doa untukmu, untuk ibumu, untuk keluargamu. Berharap suatu saat nanti tak ada lagi keluargaku atau keluargamu, yang ada hanya keluarga kita. Mencipta doa berdua untuk mereka, keluarga kita.

Mas, kini tak usah kau pikirkan aku. Sesaat setelah membaca suratmu segurat senyum kembali tercipta di paras polosku. Suratmu membuat hati dan kecemasan itu beku lalu mencair mencipta seuntai senyum mengembang tanda kelegaan. Entah bagian kata mana yang membuatku lega. Biarlah, aku tak peduli dengan hal itu.

Oh iya, sekarang orangtuaku mengerti akan senyum palsuku. Mengerti pada tangis bungkamku. Mengerti akan kepura-puraan pada ketidaknyamananku selama ini. Aku tak sempat berucap pada mereka. Mereka seolah peramal ulung, tau saat bibir membisu. Mengerti saat hati menjerit rintih. Serta paham pada diam.

Ah, jujur aku bagai orang linglung setelah tau kabar Ibu. Bagaimana kabar Ibu sekarang? Ibu cepet sehat dong :3

Biasanya tawa renyah Ibu selalu hadir didinginnya malam. Menjadi penghangat di keluarga kecilmu. Ternyata selain aku merindukanmu, aku juga merindukan ia yang selama ini menjaga dan merawatmu. Titip salam untuk Ibu disana. Sampaikan maaf karena belum bisa bertatap muka, mengusap setiap tetes keringat di panas tubuhnya, menyuapi bubur yang mungkin akan sering ia tolak, memberikan teh manis hangat di tengah dingiinya dinding rumah sakit. Maafkan aku ibu.

Allahumma rabbannas adzhibilba’ sa asyfi antasysyafi la syifauka syifa’ an la yughadiru saqamaa. Aamiin.
 

Senin, 21 Januari 2013

Garis Kesetiaan

Di setiap pagi, kutunggu pak pos mengetuk pintu mengantarkan surat darimu. Tapi tak ada.
Siang, kala sang surya menampakkan cahayanya dengan gagah tak lantas menyurutkan semangatku untuk menanti suratmu. Tapi tak ada juga.
Oh tenang. Ada gelap malam yang mungkin akan menghantarkan ceritamu lewat selembar surat. Tetap tak ada.

4 hari kulalui dengan penuh bimbang. Bertanya-tanya akan kabarmu, menanti ceritamu, berharap kebaikan dan kebahagiaan memelukmu erat. Lalu nyaman dalam pelukanmu seolah tak mau pergi. Seperti halnya aku. Yang rindu akan nyamannya berada di pelukmu.

Langit pagiku disini cerah, mas. Tak seperti halnya suasana mendung yang melingkupi hati dan perasaan ini. Sebenarnya aku tak mau menceritakan hal ini. Tapi komunikasi yang mencipta kepercayaan. Kepercayaan yang mencipta kesetiaan. Lalu kesetiaan yang mencipta kebahagiaan. Itu katamu.

Saat tiba selembar ceritamu di kotak surat rumahku. Bukan senyum lagi yang menghiasi parasku. Bukan buncah bahagia yang menyesaki dada. Melainkan isak tangis di kedua mataku. Ada rasa bernama duka menyesaki dada. Kamu tau karena apa, mas? Ya tentu, bukan karena kata manis yang kau buat. Bukan karena bahasa cintamu. Juga bukan karena kabar rindumu. Melainkan karena aku dan perjodohan itu.

Entah harus berapa kali kutegaskan pada ayah dan ibu. Agar mengerti rasaku yeng tercipta alami begitu saja untukmu. Untuk orang yang kusayangi. Aku menangis tersedu saat ada lelaki datang ke rumahku 2 hari yang lalu. Meminta kesiapanku. Ibu mulai mengerti akan keriasauan hatiku, sehingga menyuruh lelaki itu untuk memberi waktu padaku. Pada jawaban yang tak akan pernah aku jawab ‘IYA’. Karena sejatinya telah aku persiapkan jawaban itu hanya untukmu. Satu nama. @Mas_Aih.

Taukah kamu? Tetes air mata itu masih tercipta sampai detik kumenulis surat ini. 5 hari lagi lelaki itu akan kembali datang untuk menagih jawabanku. Beritahu aku mas, apa yang harus aku katakan. Bukan kepada lelaki itu, tapi kepada ayah dan ibu yang terlanjur malu karena terlalu sering menolak pinangan, padahal ayahlah yang meminta lelaki-lelaki itu datang ke rumah. Iya, mungkin ayah melakukan ini karena terlalu sayang pada aku, anak perempuan satu-satunya. Tapi sungguh aku tak nyaman dengan kondisi seperti ini.

Ingin rasanya aku berlari mencarimu, tapi aku seolah kehilangan arah. Desakan dari berbagai arah tiba-tiba datang dan menuntutku banyak hal. Aku ingin berteriak di pelukmu. Menangis sejadi-jadinya. Dan memintamu untuk membawaku berlari. Lari meski untuk satu hari. Demi mencipta damai dan tenang dalam pikirku. Agar aku tak salah melangkah. Agar aku tetap berada di garis kesetiaan. Garis yag selama ini kita perjuangkan demi satu tujuan. Kebahagiaan.

Maaf, mas. Jika surat ini malah membebanimu. Malah membuatmu khawatir dan mungkin sedih. Ah pikiranku sudah mulai kacau. Mungkinkah kamu merasakan kesedihan? Atau...... ah sudahlah jadi banyak prasangka menghantui ketakutanku.

Terimakasih mas untuk sempat membaca ceritaku. Semoga kau baik. Bahagia. Kutunggu surat kilatmu.
Tertanda aku. Masih menunggu dengan setia.

Selasa, 15 Januari 2013

Surat kecil ini untukmu, dari aku penanti setiamu.


Aku sudah terima suratmu, mas.

Benar ucapmu. Saat aku membaca suratmu, alisku bertautan pertanda aku tak begitu mengerti akan bahasa rindumu. Tapi kutelan semua aksara yang kau tulis sehingga aku menciptakan anggukan. Ya! Aku pun rindukanmu.

Entah apa yang menjadi sebab senyum simpul tercipta di segurat wajahku saat kueja tiap kata yang kau tulis. Entah apa yang kurasa, semesta gempita tiba-tiba memenuhi rongga dada. Sesak akan bahagia. Ah, kamu membuatku merasa paling berarti –lagi.
Mas, rasa itu bernama apa? Beritahu aku. Bibir menyungging manis sesaat kudapati kabarmu. Hati menggeliat lincah saat pak pos mengirimkan surat darimu. Mata begitu berbinar kala kulihat ada namamu ditumpukan kotak surat rumahku. Namun, hati resah saat tak ada kabar apapun darimu. Membuat pikiranku hanya dipenuhi tanya tentangmu. Apa kau sakit atau kau bosan dengan jarak ini? Sehingga kau memutuskan untuk mencari hati yang lain. Mengarahkan tujuan akhir bukan padaku. Ah, ketakutan itu nyata! Eh, kok aku malah bahas hal itu ya? Hehe..

Kabar aku baik, mas.
Masih setia menjaga rasa itu dengan apik.
Meski kadang tercabik :p
Mas apa kabar dengan jarak 7 jam memisahkan kita? Masihkah kau setia meminta secangkir kopi hangat di pagi hari dengan rengekan manja? Hehe.. Aku suka cara manjamu. Membuatku merasa perlu untuk selalu disisimu. Kutahu saat ini kau tengan tersenyum. Membayangkan setiap jejak yang pernah terlewat, dulu saat kita masih bersua di ruang yang sama.

Entahlah begitu sulit kumembahasakan rindu. Aku hanya ingin kau tahu, disini pun ku rindui bau tubuhmu. Peluk hangatmu. Tawa riangmu. Tatap manjamu. Ah, semuanya. Segalanya.
Semoga surat pendek ini mewakili adaku, mas. Aku ada, meski tak terlihat. Aku nyata, meski tak bisa kau raba. Eh bentar mas, kok jadi serem ya? Hahah biarlah. Tak mau aku menghapus kata yang sudah tertulis sepertihalnya aku tak mau menghapus segala kenangan dan mimpi kita.

Surat kecilku, titip usap manja untuk dia, aktor utama di setiap mimpi indah juga burukku. Dari aku, penanti setianya.